Belajar Daring, Adalah Hal Baru

Belajar Daring, Adalah Hal Baru

Saat diberlakukan oto- lockdown, pertengahan Maret lalu, secara mendadak semua institusi pendidikan konvensional terdisrupsi beralih ke mode online.


Bukan cuma kampus universitas, tetapi SMA/MA, SMP, SD, bahkan TK/PG semua beralih ke daring.

Dan ternyata masa darurat covid ini masih belum ada tampak disudahi. Justru baru beranjak naik seiring pertumbuhan angka statistik yg terinfeksi bahkan angka kematiannya.

Pesantren dg dual mode terintegrasi sekolah pun memberlakukan pemulangan para santrinya. Pekerjaan selanjutnya adalah bagaimana mengelola proses ala pesantren dual sekolah ini bisa terpantau meski via online? Seperti di pesantren Hidayatullah Surabaya, sebagai kampus pembentukan manusia berakhlaq qurani, yg punya 5 pantangan: pantang menyerah, pantang mengeluh, pantang putus asa, pantang berkhianat dan pantang bermaksiat dalam kondisi seperti ini tentu harus membuktikannya.

Untunglah Allah memberikan ujian sesuai zamannya. Sarana information technology saat ini benar benar menjadi back bone, berlangsungnya pengawalan proses. Sarana gawai yg sehari hari di pesantren hrs dibatasi, kini malah harus menjadi media penting. Ini sebenarnya juga ujian, berhasilkah pendidikan iman islam dan ikhsan, lewat bina aqidah, dan akhlaq? Bagaimana gawai benar benar menjadi IT dan bukan sekedar entertainment technology.

Yg pertama, masa ini bukan masa liburan(sama sekali off) apalagi lebaran (berakhirnya belajar), justru ini adalah masa benar benar belajar sesuatu yg baru dan belajar mempertahankan value yg baku di tengah uncertainty, ketidakpastian. Jadi dalam seminggu pertama, bagaimana hal utama yaitu komunikasi vertikal santri dg Allah sbg tuhannya yg sdh terbina di pesantren tetap berjalan. Hal itu berjalan melalui monitoring kegiatan sholat lima waktu, sholat sunnah dan qiyamul lail. Komunikasi dua arah rumah dan sekolah/pesantren dipastikan terus terjalin. Media daring yg ada (WA paling populer) , form form dr google dan office 365 utk akumulasi data dibuat dan dipantau harian oleh petugas asrama/wali kelas.

Hal kedua, yg menyangkut kewajiban mencari ilmu agama, kegiatan tahfidz al quran, murajaah, menghafal hadits juga secara rutin berlangsung. Para santri terhubung via video call dg ustadz/syech masing masing. Suasana tatap muka, ‘talaqi” tetap dipertahankan. Bisa berdua, bertiga dan berempat.

Hal ketiga, pembelajaran ilmu kauniyah, sains utk ma’rifatul ‘alam berlangsung sesuai kemampuan dan ketersediaan sarana. Santri di perkotaan dpt menggunakan platform terupdate via byk aplikasi meeting online, media belajar virtual spt google classroom, dan one note classnote. Santri dg akses terbatas cukup dg whatsapp bisa ikut whatsapp classroom. Ada santri jauh, yg dr kepulauan Maluku, Mentawai , Tual dg sinyal lemah tentu di berikan dispensasi ikut kelas bila sinyal memadai saja. Setidaknya 3 hari sekali bisa join. Yang penting semangat belajar tetap tinggi.

Hal keempat, para guru juga mengambil kesempatan mengupgrade diri. Dipaksa utk jadi guru ‘cloud’, guru awan, bukan guru terbang lagi. Mereka harus mengenal cloud storage untuk menampung data data suara, file foto, bahkan video yg bila tdk mau belajar siap siap hp nya ‘kejang kejang’ dan pingsan krn memorinya overload. Guru hrs mau berurusan dg google drive, one drive dan aneka penyimpan cloud lainnya.

Mereka hrs belajar membuat kelas kelas virtual. Bukan sekedar kasih tugas terus ongkang ongkang. Mereka bisa belajar membuat konten di youtube, minimal memanfaatkan konten yg sdh ada yg mendukung materi ajar. Satu hal penting, tidak semua guru mau belajar e learning kalau tdk dipaksa kondisi. Di sini kita melihat guru yg ogah ogahan menjalankan e learningpun pelan pelan akan terbawa perubahan itu.
Ini kesempatan menjalankan nasehat nabi, belajar sepanjang hayat. Long Life education.

( Ust. Rahmi Andri Wijonarko Kepala Sekolah SMP Luqman al Hakim)

Leave a Comment